Dampak Buruk KDRT Bagi Anak, Dari Kecemasan Hingga Trauma


Kekerasan dalam rumah tangga atau biasa disingkat KDRT, baik itu dilakukan suami kepada istri atau sebaliknya, tak hanya berpengaruh terhadap hubungan pasangan. KDRT juga memberi dampak buruk terhadap anak yang menjadi saksi mata. Bila dibiarkan, ada risiko anak akan mengalami gangguan kesehatan mental.

Anak cenderung memiliki kecenderungan mengalami gangguan kesehatan mental seperti kecemasan, gangguan stress pasca trauma (PTSD), depresi bahkan pikiran atau perilaku yang mengarah pada upaya negatif lainnya.

Bila diabaikan, dampak ini nantinya terbawa hingga anak menjadi dewasa. Cara mereka merawat dan mengasuh anak akan dipengaruhi dengan apa yang telah mereka lihat sewaktu anak-anak dulu.

Dampak Buruk KDRT Bagi Anak

Terdapat penelitian yang hasilnya menginformasikan bahwa berada pada situasi tertekan terus-menerus dapat membuat anak mengalami gangguan perkembangan pada otaknya. Hal ini sangat berdampak buruk terhadap kemampuan berpikir, berbahasa, emosi dan perilaku anak tersebut.

Tak hanya itu, perilaku agresif yang dilihat anak ketika ada KDRT di hadapannya bisa ditiru oleh buah hati, sehingga muncul kecenderungan kekerasan itu akan terulang lagi di masa depan.

Ketika anak sudah mencapai usia lima tahun ke atas, perilaku agresif yang ditunjukkan orangtuanya dapat membuat anak meniru perilaku agresif tersebut dan diterapkan sebagai cara dia menyelesaikan masalah-masalahnya di kemudian hari.

KDRT dalam keluarga memang dapat menjadi pengalaman yang menyisakan trauma psikis bagi anak. Sebab, keluarga yang seharusnya menjadi orang terdekat dan memberikan rasa aman malah menunjukkan kekerasan. Akibatnya, muncul rasa takut dan marah pada anak.

Pengalaman menyaksikan atau mengalami KDRT saat masa anak-anak sering menjadi salah satu faktor berkembangnya masalah perilaku, pengendalian emosi, atau masalah belajar di kemudian hari.

Langkah paling awal yang bisa dilakukan sebagai upaya pemulihan adalah mengusahakan anak berada di lingkungan yang membuatnya merasa aman. Butuh kerjasama dari keluarga, sekolah, lingkungan maupun tenaga kesehatan dalam proses pemulihan kondisi anak karena masing-masing anak menghayati peristiwa traumatis secara berbeda.

Tak ada yang bisa menjamin pengalaman serupa takkan terulang lagi di masa depan. Yang bisa dilakukan adalah berusaha membuat anak merasa aman dan nyaman sehingga mau terbuka dalam membahas apa yang dialami dan dirasakan dengan orang-orang terdekat. Mereka ini hendaknya membantu agar anak bisa belajar mengelola emosinya secara positif.

---------

Artikel ini merupakan lansiran dari laman https://www.antaranews.com/berita/3171085/ini-dampak-buruk-yang-mengintai-anak-yang-jadi-saksi-kdrt. Namun demikian, ada beberapa bagian yang telah mengalami perubahan dan pengeditan oleh kami pengelola blog.

Lebih baru Lebih lama