Mengapa Pengacara atau Advokat Terkesan Membela Orang yang Sudah Jelas Salah?


Sebagai orang yang pernah bekerja (bagian IT) di sebuah kantor advokat di Jakarta, saya terkadang berpikir sebagaimana judul di atas. Mengapa kok para advokat terkesan membela orang yang sepertinya sudah jelas salah?

Ternyata, setelah mencoba memahami cara kerja dan membaca banyak hal seputar advokat, sedikit demi sedikit saya mulai mengerti. Bahwa sejatinya para advokat ini bukan membela orang yang jelas-jelas salah melainkan sedang memastikan orang tersebut mendapatkan haknya termasuk keadilan dalam hukum.

Hukum Jalanan

Terminologi hukum jalanan pada dasarnya merujuk pada fenomena pengambilan keputusan yang dilakukan secara massal dan bukan oleh hakim di pengadilan.

Sebagai contoh, saat terjadi tindak pencurian dan kemudian pelakunya tertangkap tangan, maka bisa dipastikan akan menimbulkan emosi dan kemarahan warga di sekitar tempat kejadian.

Sedemikian marahnya hingga kemudian terjadilah pemukulan ke pelaku yang dilakukan oleh orang-orang yang menangkapnya. Bukan saja dipukul, tapi juga tak menutup kemungkinan hingga ke titik akhir hukum jalanan yakni pembakaran pelaku yang dilakukan secara beramai-ramai.

Saat terjadi hukum jalanan, pelaku tak punya kesempatan membela diri, menyampaikan argumentasi atau mendapatkan keringanan dari hakim di pengadilan. Padahal boleh jadi mereka adalah korban kesalahpahaman yang sedang apes berada di tempat kejadian.

Praduga Tak Bersalah

Ketika terjadi suatu peristiwa atau delik hukum, setiap orang yang terkait dengan peristiwa tersebut berhak dianggap belum bersalah hingga nanti hakim di pengadilan memutuskan status orang tersebut.

Di sinilah seorang advokat berperan dalam melihat sejauh mana keterlibatan orang yang diduga bersalah tersebut. Berupaya merinci fakta-fakta yang ada hingga menelaah tuntutan yang diajukan apakah sesuai dengan kesalahan orang tersebut atau ada tuntutan yang semena-mena.

Selain melakukan pendampingan, para pengacara ini juga berusaha membela aspek-aspek hukum sebagai penyeimbang tuntutan yang diajukan.

Sekali lagi, selama hakim belum memutuskan, seorang terduga, bahkan ketika statusnya berubah menjadi tersangka, masih punya kemungkinan nantinya dinyatakan tidak bersalah. Atau kesalahannya tidak sebesar yang diperkirakan banyak orang.

Antara Membebaskan dan Memenjarakan

Ada sebuah kaidah atau prinsip hukum yang berbunyi "Lebih baik membebaskan 1000 orang bersalah daripada memenjarakan 1 orang tak bersalah."

Prinsip ini memberikan pengertian bahwa setiap hakim hendaknya betul-betul memahami dan mempertimbangkan dengan seadil-adilnya atas semua keputusan hukum yang dibuat. 

Kalaupun seorang terdakwa memang dinyatakan bersalah dan layak dihukum maka pastikan hal itu sudah memenuhi seluruh hak terdakwa dalam memperoleh keadilan, mulai dari pendampingan hukum, pembelaan hingga kehadiran saksi-saksi.

Hakim, jaksa dan kepolisian memang menjadi garda depan penegakan hukum di suatu negara. Tapi jangan lupakan peran advokat atau pengacara. Karena hadirnya seorang pengacara merupakan bentuk minimal dari adanya keseimbangan dan keadilan hukum bagi mereka yang diduga atau bahkan menjadi tersangka dalam suatu peristiwa hukum.

(Photo: PIXABAY)

Lebih baru Lebih lama