Saat Tukang Sol Sepatu Membuka Jalan Diterimanya Amal Jamaah Haji


Adalah Abdullah bin Mubarak, seorang lelaki yang lahir pada 118 H dari ayah yang luar biasa zuhudnya dan ibu yang luar biasa shalihahnya. Ibnu Mubarak, begitu biasa orang-orang menyebutnya, merupakan seorang ahli ilmu, dari hadits hingga fikih.

Selain berilmu, Ibnul Mubarak juga dikenal kaya dan pemberani pada zamannya. Beliau adalah sosok yang bisa dijadikan gambaran betapa banyak keutamaan yang ada pada dirinya.

Mimpi yang Unik

Suatu hari, Ibnul Mubarak sedang berada di Masjidil Haram dalam rangka menunaikan tahapan ibadah haji. Mungkin karena lelah, beliau pun tertidur dan bermimpi bertemu dua malaikat yang sedang bercakap-cakap satu sama lain.

Inti percakapan dua malaikat tersebut adalah bahwa dari seluruh jamaah haji tahun itu tidak ada satupun yang amal hajinya diterima. Tak terkecuali amal haji yang dilakukan Ibnul Mubarak. Padahal beliau adalah ahli ilmu dan juga sangat dermawan.

Namun sebelum terbangun dari tidurnya, Ibnul Mubarak masih sempat mendengar ucapan salah satu malaikat yang mengatakan bahwa ada seorang tukang sepatu bernama Ali bin Muwaffaq yang tinggalnya di Damaskus.

Dia, Ali bin Muwaffaq, memang tidak hadir ke Mekkah untuk ikut berhaji tapi justru ibadah hajinya diterima dan dosa-dosanya diampuni Allah. Bahkan, berkah dari amalannya, ibadah haji para jamaah tahun itu akhirnya diterima semua oleh Allah.

Setelah menyelesaikan semua tahapan ibadah haji, Ibnul Mubarak pun segera menuju ke Damaskus untuk menemui Ali bin Muwaffaq yang namanya disebutkan dalam percakapan dua malaikat sebagaimana di atas.

Siapa Ali bin Muwaffaq?

Ali bin Muwaffaq adalah seorang tukang sol sepatu, yang sehari-hari bekerja memperbaiki sepatu yang rusak. Dia tinggal di Damaskus yang kala itu tentu bagian dari kekhalifahan kaum Muslimin.

Selama 40 tahun, Ali bin Muwaffaq berusaha mengumpulkan uang sedikit demi sedikit guna diniatkan berangkat ke Mekkah menunaikan ibadah haji.

Keinginan dan tekad yang kuat tersebut kemudian hampir terlaksana tatkala ia berhasil mengumpulkan 350 dirham. Masih kurang 50 dirham lagi dari total 400 dirham yang ia rencanakan sebagai persiapan haji.

Lezatnya Aroma Masakan

Ali bin Muwaffaq memiliki istri yang saat itu sedang hamil. Suatu hari, istrinya mencium sebuah aroma masakan dari tetangga dekat rumahnya. Adalah kelaziman tentunya di mana wanita-wanita yang sedang hamil cenderung lebih kuat indera penciumannya.

Istrinya kemudian berkata kepada Ali bin Muwaffaq agar pergi ke rumah tetangganya tersebut dan meminta sedikit masakan untuk dicicipi. Sebuah masakan yang aromanya begitu menggugah selera.

Tanpa menunggu lama, pergilah Ali bin Muwaffaq sesuai permintaan istrinya. Saat tiba di rumah tetangganya tersebut tampak baginya seorang wanita yang sedang memasak. Wanita tersebut tinggal bersama dengan anak-anaknya yang masih kecil. Ternyata, suaminya yang juga ayah dari anak-anak tersebut telah lama tiada.

Ali pun mengutarakan maksud dan tujuan kedatangannya yakni meminta sedikit masakan untuk dicicipi istrinya di rumah.

Tapi jawaban wanita tersebut sungguh di luar perkiraaan. Wanita tersebut menyampaikan bahwa makanan tersebut halal bagi mereka yang ada di rumah tersebut namun haram bagi Ali dan istrinya.

Dijelaskannya pada Ali bin Muwaffaq bahwa mereka sudah hampir sepekan tidak makan yang sudah tentu membuat mereka lapar bukan kepalang. Guna menyambung hidup, dimasaklah seekor keledai yang mereka lihat sudah mati hari itu.

Itulah latar belakang mengapa masakan tersebut halal bagi mereka karena darurat tapi haram bagi Ali dan istrinya.

Kekuatan Amal

Ali bin Mufawwaq pulang ke rumahnya. Diambilnya tabungan uang yang awalnya hendak digunakan sebagai bekal persiapan haji tahun ini. Kemudian diberikannya uang tersebut kepada wanita dan anak-anak yatim yang sedang kelaparan tadi.

"Belanjakan uang ini untuk anak-anakmu," ucap Ali singkat. "Semoga Allah menerima amalku ini meskipun aku tidak jadi berangkat haji," lanjut Ali dalam hati.

Akhirnya sejarahpun mencatat betapa dahsyatnya kebaikan dan keberkahan amal yang dilakukan Ali bin Muwaffaq. Sebuah kebaikan yang tidak saja diterima dirinya sendiri melainkan juga orang lain bahkan menjadi wasilah diterimanya amalan seluruh jamaah haji tahun itu.

Faedah dan Hikmah

Setiap peristiwa pada hakikatnya memberikan kita hikmah dan pelajaran. Termasuk kisah di atas antara Ibnul Mubarak dan Ali bin Muwaffaq.

Secara pribadi, ada sejumlah hikmah yang bisa kita petik sebagai pelajaran dalam hidup di antaranya sebagai berikut:

  • Butuh tekad dan niat kuat ketika ingin menunaikan rukun Islam kelima yakni ibadah haji. Sebagaimana kisah di atas yang menyebutkan Ali bin Muwaffaq harus menabung hingga 40 tahun lamanya guna mengumpulkan bekal ibadah hajinya.
  • Semua kaum muslimin, baik laki-laki maupun wanita, punya kesempatan yang sama untuk bisa ibadah haji. Meskipun ia seorang tukang sol sepatu yang secara penghasilan mungkin termasuk pas-pasan. Niat dan tekad kuat merupakan salah satu kunci seseorang bisa berangkat ke Mekkah menunaikan ibadah haji.
  • Sejatinya setiap sedekah itu baik dan bagus. Namun bersedekah dengan sesuatu yang paling dicintai balasannya juga luar biasa dibandingkan sedekah dengan hal yang biasa. Sebagaimana sedekahnya Ali bin Muwaffaq ke tetangganya yang kelaparan. Ali bersedekah dengan menggunakan uang yang sedianya akan dijadikan bekal untuk mewujudkan keinginnya sejak lama yakni pergi haji. Dampaknya, bukan saja Ali bin Muwaffaq yang mendapatkan berkahnya tetapi juga seluruh jamaah haji tahun itu.
  • Jangan sekali-kali menyepelekan atau meremehkan orang-orang yang secara lahiriah hanya bekerja di sektor informal seperti tukang sepatu, buruh bangunan, pedagang asongan dan semacamnya. Setiap tetesan keringat yang mereka keluarkan adalah kekuatan dan amalan yang luar biasa di hadapan Allah.

Oia, secara dalil, saya belum menemukan riwayat yang tegas mengenai kisah di atas. Apakah saya ingin menyebarkan kisah palsu? Tentu tidak. Justru dengan adanya tulisan ini saya ingin agar ada di antara pembaca yang mungkin mempunyai dalil yang kuat atas kisah di atas.

Mohon kiranya bagi yang telah sampai dalilnya untuk menyampaikannya ke saya selaku penulis agar nantinya bisa saya lengkapi artikel ini ke depannya. Terima kasih.

Wallahu Ta'ala a'lam..

Catatan: foto sekedar ilustrasi dan tidak menggambarkan keadaan yang sesungguhnya.

(Photo: PIXABAY)

Lebih baru Lebih lama