Mengenang Lawu, Sebuah Kisah Pilu Tahun 1987


Selain manusia, mahluk Allah yang ada di muka bumi adalah gunung. Dikisahkan bahwa sebelum manusia menjadi khalifah, Allah telah menawarkan kedudukan tersebut kepada gunung dan lainnya. Semua menolak, hingga akhirnya manusia yang bersedia menerima kedudukan sebagai khalifah di muka bumi.

Umumnya, sebagian besar kisah seputar pendakian gunung berkutat tentang hal-hal mistis yang cenderung menakutkan. Meski tak bisa dipungkiri bahwa gunung juga merupakan salah satu tempat yang disukai kalangan jin.

Kisah berikut mungkin sedikit pengecualian. Tidak ada cerita mistis dan semacamnya. Yang ada justru kisah haru dan memilukan yang senantiasa akan dikenang banyak orang. Minimal oleh mereka yang menjadi keluarga besar Pondok Pesantren Islam Al Mukmin Ngruki Surakarta.

Disarikan dari NationalGeographic.co.id yang bersumber dari sebuah buku berjudul Kisah Nyata: Musibah Gunung Lawu dan ditulis tim redaksi Pondok Pesantren Islam Ngruki Surakarta sekitar tahun 1988, beberapa bagian telah dilakukan penyuntingan oleh Redaksi PIONAZ ID. Harapannya tentu agar lebih mudah dipahami. Meskipun demikian, penyuntingan ini dilakukan tanpa mengubah arti dari fakta yang ada. Selamat membaca.

=====

Tadabur Alam

Sejatinya, tak banyak orang yang tahu dengan salah satu tradisi turun temurun para santri Al Mukmin di Ngruki, Surakarta. Tradisi tersebut ialah mereka terbiasa mengadakan tadabur alam bersama sebelum pulang ke rumah menikmati liburan akhir tahun.

Ini juga yang dilakukan para santri dan ustadz pada Desember 1987 ketika hendak melakukan tadabur alam ke Gunung Lawu. Sebagai program pondok, tadabur alam adalah bagian dari cara pembelajaran di Al Mukmin untuk mengenalkan alam semesta sebagai bukti keagungan Allah Ta'ala.

Mojosemi, Kami Datang

Pihak Pondok Pesantren Al Mukmin telah menyediakan perbekalan untuk membekali para ustadz dan santrinya berkemah di Lawu. Dana sebesar Rp 148.800,- dan beras seberat 200 kg diangkut bersama dengan 119 orang (termasuk 3 ustadz, 5 pembimbing senior, 1 karyawan, dan 110 santri) ke dalam dua truk.

Rombongan mulai berangkat pada Senin, 14 Desember 1987 pukul 06.00 WIB dan direncanakan kembali 4 hari kemudian yakni Kamis, 17 Desember 1987.

Persiapan matang dilakukan dengan membagi sejumlah santri ke dalam 5 regu atau kelompok. Masing-masing kelompok terdapat pengawas dan pembimbing. Selain itu juga ada 5 santri senior yang bertindak sebagai koordinator masing-masing kelompok.

Dengan suka cita, rombongan tiba di Tawangmangu Karanganyar pada pukul 10.00 WIB. Dari sana, dengan menaiki satu colt Isuzu dan empat colt diesel, perjalanan dilanjutkan ke bumi perkemahan Mojosemi dan tiba di sana pada pukul 11.00 WIB.

Sesampainya di Mojosemi, mereka berkemah dengan membangun tenda, terdiri atas tiga tenda untuk para santri, satu tenda untuk para ustadz dan satu tenda untuk keperluan dapur.

Rombongan memutuskan bermalam dulu sebelum melanjutkan ekspedisi pada keesokan harinya, Selasa, 15 Desember 1987.

Ekspedisi Dimulai

Pagi hari, seusai shalat subuh, rombongan dibagi menurut kelompok atau regunya sesuai yang ditentukan sebelum pemberangkatan dari pondok. Ekspedisi dimulai tepat saat matahari bergerak naik yakni pukul 07.00 WIB.

Layaknya pendakian gunung, mereka hanya mengenakan pakaian berupa kaos dan celana ala kadarnya, serta dibekali nasi dan ikan asin, ditambah mie instan, 3 liter air putih, dan sekantung kotak obat-obatan P3K. Setiap orang akan mendapat jatah makan satu kali dan diupayakan kembali ke tenda pada pukul 15.00 WIB.

Tugas mereka adalah menyisir perjalanan sambil membuka rute pendakian dengan babat alas (membuka hutan) atau memotong semak belukar dengan bekal golok.

Ustadz Jamaludin sebagai Koordinator Umum tak mengharuskan mereka sampai puncak. Yang penting setiap peserta kembali pada sore harinya yakni pukul 15.00 WIB.

Perjalanan dimulai. Regu-regu yang ada dibagi menjadi dua arah. Regu I, III, dan V mengambil arah sebelah kanan dari perkemahan. Adapun regu II dan IV ke arah sebelah kiri perkemahan. Kegembiraan dan rasa suka cita mengiringi mereka, seiring jiwa mudanya yang ingin bertualang.

Pada waktu yang sama, Ustadz Muchtar Tri Harimurti, salah seorang guru SMA Al Islam 1 Surkarta yang kala itu juga turut berkemah di Gunung Lawu, menuturkan siang hari itu, Selasa 15 Desember 1987 menjadi siang yang gelap pekat, bak akan turun hujan. Suasana berubah mencekam.

Meski hari masih siang, penerangan dengan lampu sudah mulai dilakukan. Pekikan takbir menjadi isyarat komunikasi antar regu bahwa mereka tetap berada di jalur yang benar.

Di luar dugaan, mereka yang seharusnya pulang ke tenda pada pukul 15.00 WIB justru baru tiba di perkemahan pada pukul 18.00 WIB.

Secara berangsur-angsur, datang Regu I, disusul Regu IV dan kemudian Regu V pada pukul 20.30 WIB. Kabut dan hujan lebat menjadi penyebab keterlambatan mereka. Adapun Regu II dan III belum juga kembali bahkan hingga keesokan paginya.

Sempat Tersesat

Regu II melalui perjalanan yang berat dan terjal. Sejak siang hari Lawu sudah diguyur hujan lebat sehingga membuat kabut turun cukup tebal. Gelap gulita. Hanya cahaya lampu senter yang tersisa.

Karena kesulitan menuju kembali ke perkemahan, pukul 19.00 WIB Regu II memutuskan menginap secara darurat.

Rasa perih di perut karena lapar telah menghantui semalaman, membuat mereka kesulitan tidur. Wajar saja, 16 nasi bungkus dan mie instan sudah dilahap habis sejak siang tadi. Toh, mereka tidak kepikiran untuk bermalam di tengah hutan yang tak jelas rimbanya.

Guyuran hujan membasahi pakaian mereka. Semakin larut, semakin menggigit rasa dinginnya. Banyak dari Regu II jatuh sakit. Beruntung, dalam regu ini ada Slamet Jafar yang berpengalaman dalam hal medis dan pengobatan.

Satu remason di tangan Jafar digunakan untuk mengobati lima atau enam anak yang benar-benar membutuhkan perawatan saat itu juga. Cara pengobatan ini tampaknya tepat. Mengatasi dingin lewat baluran remason akan cukup menghangatkan tubuh yang sakit akibat kedinginan.

Keesokan harinya, setelah fajar menyingsing, Rabu 16 Desember 1987, Regu II bangkit lagi dari istirahatnya meski kondisi masih hujan. Tujuannya melanjutkan perjalanan untuk mencari jalan kembali ke perkemahan.

Dengan sisa tenaga yang ada, mereka meneruskan perjalanan hingga akhirnya sekitar pukul 08.00 WIB mereka berhasil menemukan sungai.

Dihinggapi rasa haus dan lapar membuat mereka meminum air dan memakan tumbuhan di sekitar sungai. Meskipun mereka mengetahui, tanaman bilung yang dimakan meninggalkan rasa perih di mulut dan lidah.

Dari sana, mereka menyusuri aliran sungai hingga kemudian menemukan pipa selang air. Mereka ikuti terus dan akhirnya berhasil tiba kembali ke perkemahan Mojosemi pada pukul 10.00 WIB.

Petaka Regu III

Lain halnya dengan Regu III, yang memulai perjalanan sejak Selasa 15 Desember 1987 dengan perasaan semangat dan ceria. Meski diguyur hujan dan terasa mencekam, jiwa petualang mereka malah semakin berkobar.

Saking semangatnya, tak terasa mereka melintas semakin jauh bahkan kian dekat dengan puncak Gunung Lawu. Agaknya, mereka melangkah terlalu jauh dari perjalanan yang telah dilewati.

Sebelum sampai puncak, Ustadz Abdul Wahab selaku pengawas yang turut dalam rombongan, meminta untuk memutar balik arah dan kembali turun ke perkemahan. Sayangnya, kabut yang tebal dan menutupi jarak pandang membuat mereka mulai kehilangan arah.

Sejatinya, pukul 15.00 WIB adalah waktu yang ditentukan untuk kembali ke perkemahan. Namun posisi Regu III saat itu sudah terlanjur sore untuk turun. Puncak Lawu memang terlihat oleh mereka.

Regu III yang berisikan 24 anggota, secara perlahan menuruni bukit dan lereng yang cukup curam guna menemukan kembali arah yang benar menuju perkemahan.

Sekitar pukul 17.00 WIB, hujan disertai badai turun begitu derasnya. Cahaya lampu senter menjadi alat satu-satunya yang dapat diandalkan untuk bisa menemukan arah kembali ke perkemahan.

Tidak ada yang membawa jaket karena tak mengira akan sedingin ini. Sambil menggigil, mereka terus berjalan dengan harapan bisa kembali ke perkemahan sebelum malam.

Hujan terus mengguyur begitu deras. Malam pun telah beranjak gelap. Jam di tangan menunjukkan pukul 19.00. Ustadz Abdul Wahab pun mengajak anggota rombongan beristirahat.

Di bawah pohon yang besar, dengan pakaian seadanya, mereka berteduh sambil merasakan kedinginan. Mereka menekuk lututnya dengan tangan.

Karena memang pohon tersebut tak bisa meneduhkan mereka dari hujan, alhasil rombongan mulai sakit dan lemah kondisi tubuhnya. Beruntung mereka mampu bertahan hingga pagi.

Melihat banyaknya santri yang mulai jatuh sakit, Ustadz Abdul Wahab mengutus sebagian santri untuk mencari jalan pulang kembali ke perkemahan dan sekaligus meminta bantuan.

Sekitar 13 santri turun mencari pertolongan dengan berpencar. Adapun sebagian lagi yang tersisa, di mana kondisinya sakit, berkumpul ditemani Khumaidi (pembimbing) dan Ustadz Abdul Wahab.

Akhirnya, Rabu 16 Desember 1987 pukul 11.30 WIB, beberapa santri yang diutus berhasil tiba di perkemahan. Sedangkan sebagian lagi tersasar ke pemukiman warga. Dari sana, mereka melaporkan kondisi regunya yang memprihatinkan akibat sebagian sakit bahkan beberapa santri sempat pingsan.

Penyelamatan

Selaku pimpinan di perkemahan Mojosemi, Ustadz Jamaludin segera membentuk tim penyelamat untuk naik ke atas dan menolong Regu III. Naiklah 15 santri pada pukul 13.00 WIB untuk menyusur dan menjemput Regu III yang kepayahan dan tersesat di atas.

Hingga pukul 16.00 WIB, tim penolong belum juga membuahkan hasil. Selain faktor kelelahan akibat sulitnya medan yang ditempuh, ditambah para santri Regu III lupa arah jalan ke lokasi di mana regunya berada.

Barulah sekitar 17.30 WIB, regu penolong berhasil menemukan jejak Regu III yang masih tersesat. Terkejut mereka saat menemukan delapan anggota Regu III sudah meninggal karena kelaparan dan kedinginan. Sementara empat lainnya sedang tergeletak kepayahan.

Di antara mereka yang meninggal, ada yang sedang dalam kondisi meringkuk untuk mengtasi rasa dinginnya. Adapun 4 orang yang masih kritis segera diberikan pertolongan berupa jaket, makanan dan minuman seadanya.

Namun, dari semua yang ditemukan, tak terlihat Khumaidi dan Ustadz Abdul Wahab. Hal ini tentu saja mengejutkan regu penolong.

Untuk sementara, regu penolong fokus mencari bantuan guna menyelamatkan 4 santri yang sedang kritis. Mereka tak punya tandu dan tenaganya pun tak cukup kuat untuk membawa yang kritis ke perkemahan. Sebagian yang kritis tersebut ada yang pingsan dan tak mampu berjalan.

Mengingat hari telah gelap, regu penolong memutuskan menunggu sampai keesokan paginya untuk mencari bantuan yang lebih besar. Di malam itulah ada satu momen memilukan, sebagaimana tertulis dalam buku Kisah Nyata: Musibah Gunung Lawu (1988).

Slamet Jafar, salah seorang dari regu penolong, sedang memangku kepala santri yang kritis. Amin Jabir, nama santri tersebut, sekata dua kata berwasiat seakan-akan hendak meninggalkan dunia selamanya.

Amin berkata, sebagaimana tertulis dalam buku, agar kedua orang tuanya merelakan dan memberinya maaf. Ia juga berpesan kepada Jafar untuk melunasi hutangnya pada bagian Kesantrian sebanyak Rp 5.000,- dengan uang yang tersimpan di lemari kamarnya di asrama Pondok Pesantren sejumlah Rp 45.000,-..

Selepas berwasiat, Amin Jabir mulai memejamkan matanya dan meninggal di pangkuan Slamet Jafar. Tinggallah kini tersisa 3 santri lain yang sedang kritis namun masih hidup.

Malam itu, regu penolong melewati gelapnya Lawu bersama sembilan jenazah temannya di bawah rintik hujan.

Dan keesokan paginya, Kamis 17 Desember 1987, dua santri lain yang kondisinya kritis ditemukan sudah terbujur kaku. Dengan demikian, jumlah mereka yang korban meninggal menjadi 11 orang. Terdiri atas 8 orang saat pertama ditemukan, 1 orang di pangkuan Slamet Jafar dan 2 orang keesokan hari pasca ditemukan.

Regu penolong pun segera mencari bantuan untuk membawa seluruh jenazah dan juga tentunya menemukan di mana keberadaan Ustadz Abdul Wahab dan Khumaidi yang tak ada di lokasi.

Evakuasi Tim SAR

Kamis itu, 17 Desember 1987, sebagian regu penolong tiba kembali ke perkemahan Mojosemi. Tampak di sana hadir tim SAR yang bersiap melakukan penyisiran dan evakuasi.

Tepat pada pukul 13.45 WIB, Tim Perhutani Magetan telah menghubungi Kantor Yayasan Pondok Pesantren Al Mukmin Ngruki untuk menyampaikan musibah yang terjadi.

Setelah menurunkan jenazah, tim SAR kemudian menyisir dan menemukan para korban yang masih belum diketemukan.

Proses evakuasi yang lebih besar lagi akhirnya direncanakan selepas subuh pada Jum'at, 18 Desember 1987. Slamet Jafar yang sudah berulang kali naik turun gunung, menjadi pemimpin dalam proses evakuasi.

Tim SAR bersama ABRI, organisasi pecinta alam serta dibantu masyarakat sekitar, merangkak naik membelah dinginnya Gunung Lawu. Di lokasi penemuan jenazah yang sebelumnya dilakukan regu penolong, didirikan tenda besar untuk persiapan logistik laksana sedang ada hajatan di tengah gunung.

Slamet Jafar yang berada di depan tim penyelamat, dikejutkan dengan penemuan jenazah lainnya. Jafar menemukan satu jenazah lagi tak jauh dari lokasi saat ia menemukan beberapa jenazah hari sebelumnya.

Jafar terus bergerak lagi hingga akhirnya menemukan dua jenazah lain. Selain Jafar, Usman yang juga bagian dari regu penolong, menemukan satu jenazah. Jum'at itu terhitung empat jenazah sekaligus ditemukan dalam kondisi berdekatan sehingga jumlah keseluruhan yang meninggal menjadi 15 santri.

Setelah itu, pencarian selanjutnya adalah menemukan Khumaidi dan Ustadz Abdul Wahab yang masih belum ketahuan di mana keduanya berada. Tapi karena terhalang cuaca, pencarian ditunda dan diputuskan untuk dilanjutkan keesokan harinya.

Sabtu Kelabu

Sabtu, 19 Desember 1987 barangkali menjadi salah satu hari yang tak terlupakan bagi keluarga besar Pondok Pesantren Al Mukmin Ngruki.

Iring-iringan jenazah santri menuju Pondok Pesantren dilakukan setelah sebelumnya diadakan serah terima jenazah dari Dandim Magetan kepada Dandim Sukoharjo di Mojosemi.

Sesampainya di pondok, tampak lautan manusia membanjiri Pondok Pesantren Al Mukmin. Tangis haru terdengar mengiringi jenazah yang dibawa menuju masjid untuk dishalatkan.

Penemuan Khumaidi dan Ustadz Abdul Wahab

Meski sudah tersesat di Lawu selama empat hari, Khumaidi nampaknya masih bersemangat dan berharap menemukan jalan pulang ke perkemahan.

Bersama Ustadz Abdul Wahab, Khumaidi bertekad mencari bantuan guna menyelamatkan para santrinya. Sayangnya, mereka berdua justru malah ikut tersesat saat mencari jalan ke perkemahan. Bahkan, mereka hanya bisa melanjutkan perjalanan dengan merangkak.

Ahad, 20 Desember 1987, mereka akhirnya tak mampu berjalan begitu jauh karena kondisi tubuh yang lemah dan kelaparan hebat.

Ahad sore itu, hujan turun dengan lebat. Ustadz Abdul Wahab dan Khumaidi memutuskan mencari pohon untuk berteduh. Mereka menemukan sungai yang airnya bisa diminum dan untuk mengganjal perut yang lapar, mereka memakan tumbuhan yang ada di sekelilingnya. Setelah itu, mereka berteduh di bawah pohon yang cukup besar.

Berniat hendak menemukan tempat yang aman dan nyaman saat istirahat, Ustadz Abdul Wahab malah jatuh sedalam 5 meter dari pinggir pohon.

Khumaidi saat itu hanya bisa mendengar suara Ya Allah.. Ya Allah .. tanpa mampu bergerak untuk menyelamatkan Ustadz Abdul Wahab. Sebab kondisi tubuhnya juga memang sudah tak cukup tenaga, di mana untuk berjalan pun harus dengan merangkak.

Khumaidi hanya terpejam seraya berharap Ustadz Abdul Wahab baik-baik saja. Ia sendiri sudah pasrah, Harapan ditemukan dan diselamatkan seakan sirna.

Senin pagi, 21 Desember 1987, Khumaidi berusaha untuk melihat kondisi Ustadz Abdul Wahab yang terperosok ke bawah. Terkejut ia saat melihat Ustadz Abdul Wahab sudah tak bergerak dan tampaknya sudah meninggal dunia.

Rasa haus kembali menyerangnya. Tapi kondisinya teramat lemah sehingga tak mampu untuk bergerak menuju sungai. Di tempat itulah, ia kemudian ditemukan para pencari jamur yang menghampirinya.

"kowe karo sopo?" tanya pencari jamur yang artinya kamu dengan siapa. Khumaidi menjawab dengan pelan. "kula kalih konco kula, pak ..., nika konco kula pun pe...jah" (saya dengan teman saya, pak ... itu teman saya sudah meninggal)."

Para pencari jamur itu kemudian memberikan perbekalannya kepada Khumaidi sebagai bentuk pertolongan pertama. Pak Sardi dan Pak Parni, segera pergi mencari bantuan. Sedangkan Mbok Sardi menemani sambil menyuapi Khumaidi.

Tak begitu lama, Pak Sardi dan Pak Parni akhirnya bertemu dengan wartawan dan tim SAR yang juga sedang mencari Khumaidi dan Ustadz Abdul Wahab. Dua orang dari Regu III yang tersisa dan belum diketemukan. Segeralah mereka semua menuju ke lokasi Khumaidi saat itu berada.

Dari jarak penemuan 15 jenazah lainnya, Ustadz Abdul Wahab dan Khumaidi diketahui hanya mampu berjalan sejauh 2 km dalam waktu 6 hari. Faktor cuaca yang dingin menggigit dan juga rasa lapar menyebabkan fisik keduanya lemah dan bahkan hanya mampu merangkak diselingi tidur akibat kelelahan luar biasa.

Senin, 21 Desember 1987 pukul 10.00 WIB, keduanya dibawa dengan tandu melalui jalan raya Cemoro Sewu. Jenazah Ustadz Abdul Wahab langsung divisum di RS DKT Madiun dan kemudian disemayamkan di kediamannya yakni Madiun.

Sementara Khumaidi, yang mampu bertahan hidup tanpa makan selama 6 hari, menjadi salah satu saksi hidup yang menceritakan sebagian kisah memilukan ini.

Keterangan Foto: Penemuan Khumaidi oleh Mbok Sardi, pencari jamur di Gunung Lawu yang diabadikan oleh juru kamera Don Hamsan dan pernah terbit di koran Mutiara pada tahun 1987.

Lebih baru Lebih lama